POLA ZENDING  RMG (VEM) DAN ZNHK DI BALIM DAN YALIMU

Oleh Gerson Wetipo & Erik Aliknoe

Kerajaan Allah adalah martabat,

rajani-Nya, pemerintahan dan otoritas-Nya.

Meg Grosmman

A. Latar Belakang!

Kerajaan Allah di dalam dunia adalah Cinta Allah kepada manusia yang berdosa. Sejak manusia itu jatuh dalam dosa di taman Eden, manusia kehilangan kemuliaan dan kerajaan Allah sehingga manusia tidak layak di hadapan Allah. Manusia memberontak melawan Allah sehingga manusia menjadi musuh Allah, sehingga harus ada orang yang mendamaikan hubungan yang putus itu. Tidak lain upaya ini dilaksanakan oleh Allah di dalam misi penyelamatan-Nya, melalui kelahiran di Betlehem, pelayanan di Galelia sampai ke- Yerusalem kemudian kematian-Nya di Golgota.

Sampai Yesus menugaskan, sebuah tugas mulia kepada murid-murid-Nya (Mat 28:19) “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Tugas misi ini dilanjutkan oleh para rasul sampai kepada kita saat ini, walaupun para rasul dibunuh, disiksa bahkan ditahan bertahun-tahun.

Para zendeling Belanda dan Jerman menerima pertobatan dan memberitakan Injil seluruh suku bangsa. Hasil dari pekabaran Injil oleh Johan Gottlob Geissler dan Carl Williem Ottow Tepat tanggal 5 Februari 1855 di Mansinam pelabuhan Doreh, maka hal pertama yang mereka dua mengucapakan adalah seboyan doa “ Dengan nama Tuahan kami mengijakan kaki di Tanah ini” . Dengan pertanyaan serta doa yang di ucapkan tersebut maka, pekabar injil di Papua dimulai, dan sejak itu Ottow dan Geissler membuka Mansinam sebagai pos pekabar injil pertama.

“Periode pekabaran  Injil di tanah Papua”

  1. Perintisan dan permulaan pekabaran injil (1855-1863)
  2. UZV (Utrechatse Zendingsvereniging) di kota Utrecht  memperluas pekerjaan dari Gossner yang di rintis Ottow dan Geissler (1863-1907)
  3. Pembentukan resort-resort (1907-1924)
  4. Resort dan jemaat-jemaat di intesifkan (1924-1942)
  5. Masa PD II Masa pencobaan dan ujian (1942-1945)
  6. Pembangunan Kembali “Pembentukan jemaat, Klasis dan Resort dan persiapan menuju GKI yang berdiri sendiri”(1945-1956).

Di sana misi gereja di tanamkan, banyak orang Papua diselamatkan dengan datangnya para zending ZNHK maupun UZV zending pertama selama  dilakukanlah pekabaran Injil di pelosok Tanah Papua didaerah Pesisir Papua, 101 tahun kemudian tanggal 26 Oktober 1956 lahirlah GKI di Nieuw Guinea sekarang disebut Gereja Kristen Injili di Tanah Papua pada sidang pertama di jemaat Harapan Abepura dengan ketua sinode Pdt. F. J. S Rumainum dan sekretarisnya Pdt. F.C. Camma di jemaat Harapan Abepura dan seluruh jemaat-jemaat di tanah Papua, yang didirikan oleh Zending dimasukan menjadi anggota Gereja GKI yang sah dan resmi. Disini terlihat keseriusan GKI di New Guinea melakukan banyak terobosan untuk misi penginjilan kepada semua suku Bangsa di pelosok Tanah ini.

Tulisan ini kirannya mencerahkan kita untuk melihat pola-pola pengabdian yang dilakukan oleh zendeling UZV (Utrechtse Zendings Vereniging), RMG (VEM) maupun ZNHK dalam GKI di Tanah Papua khususnya kepada orang Yali dan Hubula yang rupaya mengalami pergesekan sangat serius sejak integrasi  1945 kepada NKRI, dilihat dari aspek pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pelayanan kesehatan maupun pelayanan misi gereja. Perhatian ini merujuk pada sebuah keprihatinan nilai –nilai Injil yang sesungguhnya terkikis dan mengalami kepunahan. Pada umumnya kedatangan zendeling Jerman, Belanda, Amerika maupun Australia datang dengan motivasi Gold, Glory dan Gospel. Tetapi sangat mendidik dari aspek manusianya. Tetapi metode yang dikembangkan sejak Papua masuk dalam Ibu pertiwi adalah sistem penguasaan sangat berbeda pada zaman zending, orang Papua di ajar dalam segala hal, mengajarkan nilai hidup (Disiplin, tekun, bekerja dll) memberikan kebebasan dan mandiri.

Untuk Misi Pekabaran Injil di wilayah Lembah Balim dan Yalimu lebih dahulu hadir misi dari CAMA (Cristian And Misionary Aliance) dan Gereja Katolik (1958). Maka kehadiran GKI di lembah Balim, pertama-tama bukan atau tidak bermaksud untuk mencari dan membuka Pospenginjilan baru, melainkan untuk melayani anggota jemaatnya yang telah bekerja di lembah Balim. Jemaat-Jemaat GKI itu ada sejak kehadiran Belanda yang pertama pada 10 Desember 1956. Dibawa rombongan Belanda yang berasal dari Papua seperti polisi, pegawai pamongpraja, tenaga kesehatan, dan itu warga GKI. Pertama mereka tinggal di Wesaput, dan seorang anggota dari mereka yang tenaganya kesehatan yakni: Mantri Obeth Watimena, bertindak sebagai guru Jemaat untuk ibadah-ibadah. Di pimpin di pagi hari pada minggu pertama tanggal 20 Desember 1956 sampai 23 Oktober 1959, ia pimpin di Camp Pos pemerintah di Wesaput.

Berbicara tentang misi zending RMG (VEM) di Balim dan Yailmu, tentu erat hubungan dengan misi kerajaan Allah kepada manusia Yali dan Hubula. Misi Injil kerajaan Allah kepada manusia Yali dan Hubula adalah suatu pekerjaan Roh kudus melalui zendeling RMG atau sekarang disebut VEM (Verenite Evangelische Mission)  dan ZNHK ( Zending Nderlands Hervormade Kerk) adalah pelayanan yang holistik atas permintaan ketua sinode pertama  Pdt. F. J. S. Rumainum sebagai Ketua Umum Sinode pertama, di Rijin Barmen Jerman 10 tahun kemudian Pada akhir ahun 1959 Utusan Zending itu pun menerjun Lembah Baliem dan Yalimu, dilanjutkan oleh utusan VEM dan ZNHK seperti Siegfried Zollner, Dokter.Wilem H. Vriend, Pdt. Helmut Bentz, Paul Gerhard Aring, Adam Roth, Klaus Reutter, Pdt Zet Rumere   dan Penginjil Anton Mansawan, Twenty dan penginjil asal Bokondini dan daerah pesisir Papua untuk membantu pelayanan di lembah Baliem dan Yalimu.

  Berhubungan dengan “Resolusi Konflik di Papua” seharusnya ada upaya gereja  yang sungguh-sungguh serius, mentralisir dan bertanggungjawab melihat segala aspek pembangunan manusia Papua di segala bidang. Pola pelayanan yang sesungguhnya telah menjadi warisan gereja untuk di tindaklanjuti sebagai salah satu tugas pokok gereja. Gereja perlu melihat aspek pembangunan manusianya sebab pembangunan manusia tidak terbatas pada khotbah di mimbar, melainkan pelayanan nyata dari aspek kesehatan, pendidikan dan ekonomi sebagai bagian dari kemandirian hidup manusia yang utuh. Karena itu tulisan yang kami buat ini berdasarkan pendekatan kritikan sosial teologi  terhadap upaya resolusi yang hakiki.

B. Pola-Pola Pelayanan Pada Masa Zendeling Sampai Terbentuknya GKI New Guine Tahun 1855-1956.

Metode kerja Zending di Tanah Papua, dapat kami rangkumkan sebagai berikut:

  1. Zendeling menetap disebuah kampung-kampung, mulai mengadakan kebaktian-kebaktian. Tetapi mereka sedapat mungkin menyesuaikan diri dengan pola kehidupan orang-orang orang Papua. Dalam kegiatan, Khotbah dan bahasa sehari-hari, zendeling menggunakan bahasa setempat. Misalnya Jaesrich dan Ottow dan Geissler berusaha mempelajari bahasa Numfor yang sama sekali tidak memiliki tata bahasa dan tertulis untuk melakukan pelayanan di Mansinam.  Sejak kontak pertama Johan Gottlod Geissler dan Carl Williem Ottow, berusaha mempelajari bahasa setempat sebab penduduk setempat tidak terlalu penting untuk hasil pertukangan, yang kemudian dalam kekuranagn atas usaha Jaesrich berhasil menterjemahkan bahasa. Bahasa Numfor dengan menterjemahkan Alkitab Perjanjian Baru, dan buku-buku cerita adalah sebuah upaya yang berkobar-kobar membuat mereka bekerja mengabarkan Injil di Teluk Mansinam. Demikian halnya usaha mempelajari bahasa setempat menjadi suatu kewajiban para zendeling untuk menyampaikan berita Kristus.Mendirikan sekolah-sekolah zending untuk mendidik anak-anak masyarakat  mulai dari Mansinam, ke. Kwawi, Andai, Miei, Serui sampai ke seluruh pelosok Tanah Papua. Untuk memajukan usaha sekolah-sekolah ini, zending-zending di New Guinea meminta pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda untuk mengadakan peraturan “wajib sekolah” bagi anak-anak dari berbagai suku di Papua. Kemudian membuat peraturan  itu oleh pemerintah Belanda, dan inilah merupakan peraturan wajib sekolah yang pertama pada waktu itu di Nusantara. Zending juga menerima subsidi dari pemerintah untuk menyelenggarakan sekolah-sekolah tersebut. Mendirikan rumah-rumah sakit dan balai-balai pengobatan sebagai sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Mengadakan sekolah-sekolah kursus keterampilan (menjahit, menganyam, bertani, kebidanan dan lainnya) untuk anak-anak perempuan Papua.Mendirikan sekolah-sekolah tukang, guru, medis  dan sekolah-sekolah penginjil. Untuk menunjang keseluruhan pekabaran Injil.
  2. Mendirikan sekolah yang berpola Asrama. Pola asrama pada waktu itu dibuat untuk mengajarkan hidup disiplin serta mendidik murid agar menyatukan berbagai suku dan membangun rasa saling menghargai antara satu dengan yang lain, dalam pola asrama yang dibuat yang menetap ialah mereka yang dipersiapkan untuk melanjutkan pekerjaan zending. Terlihat hampir sekolah-sekolah zending RMG, UZV mapun ZNHK di dalam GKI memiliki pola berasarama, bekas dari semua itu STFT GKI I.S Kijne, SPGJ Lahairoi Manokwari maupun (SAA) Sekolah Penginjil Apahapsili memiliki asrama untuk menampung dalam satu wadah Asrama.
  3. Menerbitkan buku-buku pelajaran Kristen bersifat Lokal. Dalam bahasa setempat untuk mempermudah pelayanan khotbah, sekolah, liturgi, nyanyian dan mempermudahkan orang Papua untuk mengerti Firman Allah. Misalnya di Mansinam dilakukan penerbitan buku 1500 kata dalam bahasa Numfor tahun 1861, oleh badan misi zending. di Yalimu buku “nare-nare”.
  4. Penebusan Budak. Para zendeling melakukan penebusan budak dengan membawa atau menyekolahkan anak-anak budak di Tobelo, Depok dan lain-lain agar dapat menjadi guru, zendeling. Dengan begitu mereka bisa kembali dan membantu dalam penginjilan. Dan calon-calon guru ini  adalah budak yang di tebus oleh utusan zendeling atau guru yang didatangkan dari Ambon, Halmahera atau Sangihe dan menjadi anak angkatnya tetapi juga anak tebusan misalnya: Petrus Kafiar. Dan dengan tujuan setelah mereka selesai sekolah guru mereka akan di tempatkan di kampung-kampung sebagai guru sekolah dan guru jemaat

C. Pola-Pola Pelayanan Setelah Gereja Mandiri Bertolak Dari lembah Yali, dan Hubula.

Secara keseluruhan kami berbicara tentang pengembangan penginjilan di Tanah Papua. Namun fokus kami adalah wilayah Yali dan Hubula, mungkin saja ada perbedaan strategi penginjilan didaerah lain, tetapi secara keseluruhan ada kesamaan strategi misi pekabaran Injil. Setelah 10 tahun GKI berdiri, daerah yang menjadi fokus GKI  adalah Lembah Yali adalah dimulai dari Elelim sampai ke gunung Neruhumtek termasuk wilayah Mek sampai ke wilayah Mamberamo. Sedangan daerah selatan dan utara merupakan daerah pelayanan Gereja GIDI sedangkan bagian utara GJPI dan lebih jauh ke lembah Balim adalah kebanyakan Gereja Katolik. Daerah yang menjadi wilayah GKI adalah  daerah Habie terdiri dari daerah Elelim, Yarema, Beniam, Apahapsili, Hubliki, Kulet, Tangumsili dan sekitarnya, Wilayah Werenggik, Poik, Mabuale, Welarek, Benawa dan Gilika, Wilayah Ponteng Sali, Panggema, dan Salema, Wilayah Sibi adalah Anggruk, Heiklahin, Waniok, Prongkoli dan Kosarek   yang merupakan masyarakat Yalimo dan Yahukimo dan Kurima, Wesaput dan Hitigam di lembah Baliem. Wilayah Baliem meliputi Kurima sampai Piramid, pusat pelayanan zending adalah Kurima, Ibiroma, Mugi, Yogosem, Wesaput dan Hitigima.

 Merupakan daerah daerah pusat pelayanan Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua.  Badan Pekerja Sinode Umum GKI Di Irian Jaya, setelah 110 tahun kemudian dirintis oleh zendeling asal Jerman, Belanda maupun Asal Papua Pantai maupun penginjil Asal suku Lani atas permintaan ketua Sinode pertama Pdt. F.J.S Rumainum adalah Zendeling RMG Dr. Siegfried Zollner,  Willem H Vriend, Paul Gerhard Aring, Adam Roth, Klaus Reutter, Pdt. Helmut Bentz maupun Pdt Zet Rumere  dan lainnya yang tidak kami sebut satu persatu. Tentu dalam sebuah misi harus memiliki metode tersendiri yang sesuai pola penginjilan untuk penyelamatan Allah manusia terlebih bagi  orang Yali dan Hubula adalah sebagai berikut:

1. Bahasa

Sebagai Kontak Pertama, alat berkomukasi dengan masyarakat setempat. Orang Yali, Mek dan Hubula mengalami kontak pertama melalu bahasa setempat atas bantuan penginjil dan pendeta yang bekerja pada masa pemerintah Hindia Belanda yang menetap di Lembah Yali dan Balim seperti penginjil Anthon Mansawan, penginjil Twenty Pdt. Zeth Rumere adalah yang mempermudahkan bahasa Yali maupun Hubula kepada zendeling VEM dan juga kepala suku Yuwarima Poliemakwe 

2. Membuka lapangan Terbang

Membuka lapangan sebagai alternatif, daerah pegunungan yang sulit di jangkau, disini masyarakat merasa aneh ketika melihat pesawat yang terbang diatas lembah Balim dan Yalimu, apalagi setelah lapangan terbang dibuka dan ketika lepas landas di Apahapsili maupun Angguruk. Dan di lembah Baliem dibangunnyalah salah satu lapangan terbang lapangan di Wutalo yakni di Kurima dengan ukuran panjang 450 meter dan lebar 30 meter yang dimulai pada Maret 1972, sampai pada November 1972 pembangunan lapangan terbang selesai dan pesawat bisa mendarat untuk pertama kalinya.

3. Pertanian dan peternakan.

Pertanian dan Peternakan ini dikembangkan  dengan memasukan berbagai ternak dan tanaman karena tanah di Yalimu dan Balim, tetapi juga karena segi budaya merupakan milik orang Yali dan Balim atau karena begitu suburnya sebagai lahan yang baik, misalanya di Apahapsili maupun Anggruk , seperti Nenas, kelapa, babi, Ayam, dan Sapi dan lainnya, di barengi dengan cara-cara yang lebih baik.

4. Pelatihan pertukangan

Hampir di seluruh tanah Papua pada masa zendeling sejak 1855 sampai berakhirnya masa penginjilan, sudah dikembangkan di perbagai tempat dan resort. Di Yalimu, dibuat juga sekolah pertukangan, atas bantuan, Pdt Helmut Bentz dan penginjil Anthon Mansawan, di Apahapsili dan juga di Kurima dengan tujuan agar orang Yali dan Hubula menjadi mandiri, dan dalam penyebaran Injil mereka dapat membangun rumah moderen di berbagai kampung di sekitarnya, agar orang Yali dan Hubula dapat membangun rumahnya sendiri. 

5. Kesehatan,

Tidak jauh beda dari pelayanan badan zending sebelum GKI TP terbentuk. Pelayanan kesehatan ini berlanjut sampai GKI Di New Guinea terbentuk, sampai pedalaman Papua. Banyak orang Yali, Mek dan Hubula di layani umumnya orang Papua, misalnya rumah sakit Efata Angguruk menjadi rumah sakit rujukan, yang dilayani oleh Dr.Willem H Vriend, Trinje Hustra, Dokter Scheepstra, Mantri Izzak Samuel Rumere dan Dokter Simon Sengkeri, dan Paulus Kabak sebagai pengatur inventris Rumah Sakit. Untuk di wilayah Kurima, di Ibiroma, Mugi dan Yogosem pada saat itu (tahun 1974-1976), pelayanan kesehatan sangat ditentukan oleh kehadiran kedua suster Hanna Kessler dan Martha Diehl. Sangat jelas bahwa pelayanan kesehatan pada tahun-tahun itu berjalan baik dan semua orang merasakan berkat kesehatan secara nyata dalam kehidupan.

6. Pendidikan.

Para zendeling menyadari betapa pentingnya proses pemuridan melalui pendidikan. Zending melihat pendidikan sebagai tanggungjawab misi, sehingga ada upaya-upaya pengakaderan melalui pelajar mengajar di daerah Yali menyebutnya “nare-nare”. Tujuannya untuk membentuk sebuah moralitas yang baru. Selain itu ada upaya-upaya pula dari istri-Istri Zendeling dengan mengajar, cara menjahit, menyuci, dan merawat dll. Guru Yan Rumbarar, Guru Anton Mansawan dan Pdt Helmut Bents mengajar di Apahapsili, dengan menciptakan metode “Nare-nare” begitu pun di Angguruk dan Kurima.

7. Pemberitaan Firman Allah.

Dalam setiap misi zending yang sangat diutamakan adalah pemeberitaan Firman untuk mengkongkritkan misi Allah kepada semua orang suku Bangsa. Allah  hadir dalam pemberitaan Firman Allah melalui pemberitaan dan kesaksian, didalam ibadah-ibadah kebaktian, liturgi, khotbah, katekisasi, kebaktian rumah tangga dan lainnya.

D. Pola apa Yang di kembangkan Saat Ini.

Bertolak dari kondisi sekarang bahwa ada sedikit perubahan, misalnya:

  1. Membentuk P3W di Polimo

 Hanna dan Martha pulang ke Jerman (Martha pada 1976 dan Hanna pada 1979), GKI beberapa kali meminta tenaga baru mengganti tugas mereka, dan akhirnya dikirimkanlah beberapa suster di Yalimu dan Balim. Atas permintaan ini kirimlah suster Kathe Glucks dari Jerman dan Trijntje Huistra dari Belanda. Mereka pun menjalankan pelayanan seperti yang dikerjakan oleh kedua suster yang beberapa suster sebelumnya pada waktu mereka ada di Polimo sehingga banyak wanita muda masuk di P3W wanita muda sudah dapat izin dari orang tua mereka untuk masuk sekolah. Semasa Trijntje Huistra di Polima mendorong pembentukan P3W (Pusat Pembinaan Pemberdayaan Wanita) Untuk melihat kemajuan kerajinan tangan pada kaum wanita. Pertama, adalah mengenai persekutuan. Beberapa tahun kemudian banyak juga para wanita yang berdatangan, maka dibangunlah satu asrama yang bekerja seperti P3W, dan inilah yang akhirnya menjadi cabang dari P3W Abepura, yang pada saa itu diberi nama Tuanggen. Mereka juga dididik menjadi perawat, guru sekolah tetapi juga diajar melakukan kerajinan tangan dari bahan alamia, dan lainnya.

2. Hasil Dari pembangunan Lapangan Terbang.

 Pertama, adalah mengenai kesehatan. Dengan adanya lapangan terbang, maka zuster Martha yang sangat menantikan untuk membuka Poliklinik segera dibuka. Kedua, adalah mengenai pendidikan. Misalnya penginjil Arnold Sawaki yang telah membuka sekolah Alkitab di Ibiroma secara sederhana dapat di bantu juga oleh kehadiran suster asal Belanda dan Jerman dengan memberikan bahan-bahan belajar. Kemudian dengan adanya lapangan terbang, berbagai hal kebutuhan dalam pelayanan terus di perlengkapi.

3. Tubuh Organisasi.

Hasil dari pekerjaan zending UZV, ZNHK, RMG (VEM), telah membuahkan perbagai kemajuan yang tak dapat dipungkiri. Tugas organisasi dan oraganisatoris semakin membaik, mengalami kemajuan manusia dalam berbagai bidang. Dengan berdirinya jemaat-jemaat mandiri, Klasis dan Sinode GKI Di Tanah Papua. Maka terlihat dari segi finansial, harta milik gereja sudah membaik, tenaga pelayan gereja cukup banyak. Seperti di Balim hanya tenaga kader, dan tenaga pelayan para guru penginjil, sekarang anak pribumi Balim 18 orang pendeta,  yaitu 16 orang pendeta laki-laki 2 orang pendeta perempuan,  9 orang guru jemaat laki-laki dan 3 orang guru jemaat perempuan. Artinya bahwa gereja kita telah mengalami perkembangan secara organisasi, namun pemberdayaan manusia sangat kurang, dilihat dari pelayanan kesehatan yang tidak maksimal,  YPK yang tidak begitu aktif di berbagai daerah, asrama yang tidak teratur.

Pelayanan penginjilan oleh misi zending dilakukan dengan berbagai aspek hidup manusia, sehingga dapat merasakan manfaat. Namun saat ini perlu di pertimbangkan karena pola-pola zending masa lalu mengalami perubahan secara siknifikan di karenakan pelayanan saat ini lebih mengutamakan sifat yang oraginsatoris ketimbang pelayanan kepada manusia sebagai inti utama misi Allah melalui Yesus Kristus. Penting untuk di pikirkan bersama, pola-pola yang cocok pelayanan kepada umat GKI di TP.

E. Bagaimana Pola Zending Masa Lalu Dan Bagaimana Di Masa Sekarang.

Berbicara tentang pola zending masa lalu yang di gunakan di Balimdan Yalimu secara umum di Tanah Papua sudah di jelaskan pada topik-topik awal, oleh karena itu disini tidak lagi diuraikan dari apa yang sudah ada diatas. Namun pertanyaan penting pada bagian ini adalah “bagaimana sekarang”? Apakah tetap memakai pola para zendeling? Atau tidak. Dengan pertanyaan inilah, maka dilanjutkan hal beberapa lagi, seperti: “apakah pola yang dilakukan itu baik atau tidak”? pada masa zending para zendeling mengajarkan seperti begini, tetapi kenapa sekarang lain? Bagaimana orang Papua dapat menerima Injil disamapaikan tanpa ada respon basa basi?

Dengan beberapa pertanyaan diatas, pertanyaan “bagaimana sekarang”, sesungguhnya tertuju kepada gereja saat ini sebagai penerus pekerjaan para zendeling itu. Maka uraian disini lebih kepada gereja (GKI), dengan mempertanyaan seperti apa pola yang digunakan dalam perwartaan firman Allah saat ini? kemudian membandingkan dengan pola para zendeling di masa lalu dengan hasil-hasil yang tercapai, yakni seperti nilai-nilai kekristenan yang terjaga baik, pelayanan yang berdasarkan kasih, saling membantu antara satu sama lain dan bertambahnya atau kurang anggota jemaat (Aspek Diakonia), dengan menekankan aspek Sosial, Budaya, Ekonomi dan pemberdayaan manusia. Aspek-aspek tersebut bukannya gerja tidak upayakan, tetapi perlu ada sinergitas dan tanggungjawab yang penuh.

F.Nilai dan Pola Apa yang Harus di Tekankan Gereja dan Pemerintah?

Berpacu dari pola penginjilan yang sudah di gambarkan diatas, maka penting untuk kita merefleksikan dan menyadari pola pelayanan kita sebagai gereja dan pemerintah yang ada ditengah-tengah dunia yang hidup bekerja.

  1. Hari ini banyak Pdt, Grj, Guru-guru agama, dan para medis, tidak bertahan di kampung yang jauh dari kota, dengan alasan yang berbeda-beda. Maka harus ada persyiaratan yang jelas serta gereja mendorong setiap mahasiswa untuk mengenali misi serta tujuan kehadiran mereka sebagai sebuah alat misi penyelamatan Allah.
  2. Pola pendidikan YPK tidak mempan di daerah. Sementara sekolah Negeri, dan zending lain maju sangat menonjol karena di topang fasilitas yang lengkap. Maka penting untuk tidak menghapus semua aspek zendeling, seharusnya pemerintah memfasilitasi gereja untuk membangun dengan penuh tanggungjawab.
  3. Pemerintah tidak harus serta-merta membuka sekolah negeri di tempat yang ada sekolah YPK, sebab sangat berdampak buruk ketika ditempat yang bersamaan sekolah negeri di buka. Hal ini akan mengganggu pertumbuhan sekolah milkik gereja, seharusnya pemerintah medukung segala prorgam gereja dengan memperdayakan umat melalui pendekatan agama.
  1. Rekomendasi.
  2. Melihat pola pendekatan zending-zending yang bekerja di Tanah Papua mengutamakan sekolah yang berasrama serta mengkoordinir secara baik, maka seharusnya yang dilakukan gereja saat ini jugalah demikian. Memperhatikan pola asrama yang sangat baik itu harusnya diwajibkan juga bagi generasi sekarang sebab dengan tertib dan disiplin serta tidak membeda-bedakan suku maka kesatuan dan persekutuan dapat berjalan berdampingan.
  3. Semua aspek penginjilan ketika semua dikendalikan oleh pemerintah, maka bisa mengalami kepunahan identitas misi. Hal ini terlihat aset-aset gereja tidak bisa disangingi dengan kesiapan pemerintah.Maka gereja harus berupaya bekerjasama dengan pemerintah mengedepankan keseluruhan daripada Injil itu dengan memperdayakan jemaat melalui aspek pemberitaan Firman, pendidikan, kesehatan, diaokonia dan ekonomi jemaat.

Daftar Pustaka

  1. SIlak Roby Ismail ,.2006,  Hidup dan Kerja Para Penyiar di Balim Yalimu, Tabura Papua.
  2. Peyon Ibrahim A,. 2015,  Terang Bersinar Di Balik Gunung. Kreatama: Kelompok Study Niren Tohon Unitet Evangelical Mission.
  3.  Bentz Helmut ,. 2012, Tanda-Tanda Kehidupan di Zaman Batu , Wahine.  
  4. Rumainum,F.J.S. 1966, Sepuluh Tahun GKI Sesudah Seratus Satu Tahun Zending Di Irian Barat. Kantor Pusat   GKI, Sukarnapura. 
  5.  Kamma, F. C. 1981. Ajaib di Mata Kita. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  6. Scheunemann Rainner , 2009, Fajar Merekah Di Tanah Papua, Panitia Jubelium Emas 150 Tahun, hari pekabaran Injil di Tanah Papua.
  7. Alua, A. Agus,.  2006, PermulaanPekabaran Injil di LembahBalim, Biro penelitian STFT Fajar Timur, Abepura. 


Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai