
Tak ada hening di akhir senja. Senja berlalu, malam pun tiba.
Insan manusia berlekas pergi ke tempat beraduannya. Setelah seharian berjerih-lelah juangkan nasibnya.
Burung-burung di udara-pun berkicau, sembari memanggil insan terbang bahwa hari sudah gelap. Ohh…mereka saling mengingatkan.
Ombak, sepoi-poi terdengar, angin pun tiup berlahan, suara musik Wizz pun terdengar, “rindu-rumah, aku rumah”… keasikan ku di ketahui oleh sang Nuri, kian Siul burung Nuri kagetkan jantung, saat itu jantungku berdebar, lalu ku diam sejenak dan ku dengar suara perkampungan mulai kelihatan (ada suara, tawa dan bahagian, ratapan- tangisan). Itu menandakan aku tidak harus berlama-lama di luar. Saatnya come back home.
Rumahku tempat ternyaman. Rumahku surgaku. Rumahku membri inspirasi kecil, yang selalu tertanam dalam sanubari. Bahwa kau adalah satu insan yang telah warisi rumah itu. Kau layak menghuninya tanpa, tamu yang urusi rumahmu. Kau layak tidur di tempat tidurmu. Kau layak, makan dari dapurmu. Kau layak, minum dari sumurmu. Kau layak, berlari dan berlombat di halaman, sambil nyanyikan, Syair Kijne:…ohio…ohiooo….sini pek-pek sana pek…sini pek sana pek…
Walupun jauh melayang, seperti cendrawasih, selalu ada rindu tuk kembali.
Kadang rindu ini mendesak kalbu, hingga teteskan air mata, karna kehilangan cara, bagaimana aku harus kembali. Tapi sembari saatnya tiba, aku tau, aku akan pulang.
We need come back to home!
#eral_pusii


Tinggalkan komentar