JUSUF DI JUAL (Kej (Kejadian, 37:12-36) Vol 1

Secara historis Bible menjelaskan tentang penjajahan bangsa Israel dari Tanah Mesir dalam kekuasaan raja Firaun. Semuanya di awali dengan penjualan Yusuf oleh saudara-saudaranya dari tanah Kanaan (Kej, 37:1). Yakub berdiam di tanah Kanaan dan memiliki dua belas anak dari semua istri yang di dimilikinya. Yusuf sendiri adalah anak bungsu dari Yakub, dalam memperlakukannya Yusuf selalu di sayang oleh Yakub (Kej,37:4). Pada ayat ini di jelaskan bahwa saudara-saudara yang lain membencinya.

Animasi Yusup di buang ke dalam kolam oleh saudara-saudaranya _ Cek animasi Yusup di google

Selanjutnya suatu hari Yusuf di jual oleh saudara-saudaranya kepada seorang Ismael dari Gilead yang sedang pergi ke Mesir, dengan uang seharga dua puluh sykal perak (Kej, 37:28). Peristiwa ini dapat di temukan ada beberapa faktor seperti: iri hati (envy), amarah, dan cemburu akan kekuasaan. Penekanan ini ter-muat pada (Kej, 37: 4 – 11).

 Ada peristiwa menarik pula setelah Yusuf di jual, adalah kebohongan dan rekayasa cerita di buat kepada Yakub bahwa Yusuf telah di makan oleh binatang puas (Kej, 37:31-33). Anak-anaknya memberikan luka yang mendalam kepada Yakub, sebagaimana di jelaskan (Kej, 37:34 bahwa “…berkabunglah berhari-hari lamanya…). Bahkan sadisnya Yakub sampai berjanji berkabung sampai mati (Kej, 37:35). Demikianlah anak-anaknya yang lain telah memberikan luka yang mendalam kepada Yakub. Begitulah, kadang “luka yang orang beri selalu menekan jiwa dan raga, hingga kadang  mati dalam tekanan”.

Yang terkasih! Pada historis Alkitab di atas dengan jelas menggambarkan tentang beberapa hal penting:

  1. Uang membuat orang menjual harga diri.

Yusuf di jual kepada orang Ismael dengan uang. Yudas menjual Yesus kepada orang Yahudi karena uang (Mat, 26:15). Bahkan nasihat Paulus kepada Timotius, bahwa usaha akan mencintai uang ialah akar dari segala kejahatan.

Yusuf di jual adalah usaha penghilangan paksa hak hidup dirinya. Saudara-saudaranya tidak berpikir bahwa Yusuf adalah adik terkasih mereka. Karena bagaimana-pun Yusuf adalah sala satu anggota keluarga mereka sendiri. Hal yang sama terjadi pada Yesus. Ia di jual dengan 30 kp, dan ini usaha menjual harga diri Yesus. Setelah Paulus bertobat, nasihatnya kepada Timotius “jangan sampai kita menjual diri kita karena usaha mendapatkan uang” (1, Tim 6:10).

Bagaimana pesan moral dari ketiga, kisah di atas? Harga diri kita di jual kepada bangsa yang keras kepala dan haus akan kekuasaan. Harga diri, kita di jual oleh saudara kita sendiri, untuk mendapatkan uang dan inkam. Hak hidup kita di beli dengan uang, padahal dunia yang kita tempati bukanlah dunia buatan tangan manusia. Mereka tidak mau orang kita menjadi tuan di negeri sendiri. Begitulah yang tidak bersalah di salahkan, seperti kasus Yesus, hukum-hukum dalam ke-Yahudian di buat untuk melindungi diri mereka dan tidak melihat kebenaran yang sejati, sebagaimana di kerjakan oleh Yesus penebus umat manusia. Dan sebagaimana Paulus ingatkan, bahwa ketika orang berusaha keras untuk mendapatkan uang, harga diri mereka tidak lagi berarti dan harga diri mereka seperti barang jualan yang mudah di beli dengan se-sykal uang murahan “…sebab dengan memburu uang dan kekayaan mereka telah menyimpang dari kebenaran Allah” band (1 Tim 6:10).

Pada konteks kita? Harga diri kita telah di jual-belikan. Kepada pebisnis, pelahap, pencuri/perampok, pembunuh, pendusta/pembohong yang ingin menguasai harga diri kita. Sebagian orang kita juga rakus dan ambigu, hingga lupa diri akan hak hidupnya. Ketika mereka mengambil, kita biarkan mereka mengambilnya, dan memang begitulah ketika uang berbicara “mata pun melotot dan urat malu biasanya putus” hingga mengiyakan segala hal. Satu lirik lagu dari Wilyano: di  kasih hati, minta lagi jantung, dan ingat saat otak kita diambil, saya percaya matilah kita, tiada ada harapan untuk masa depan.

Saudaraku yang kekasih! Ketika orang menjual harga diri, sangatlah menyakitkan. Tetapi, hasilnya selalu berbuah baik jika itu adalah rencana Tuhan. Ketika harga diri Yusuf, bahkan Yesus di jual oleh orang terdekat mereka, pada endingnya berbuah untuk kehidupan yang lebih baik daripada harapan sesaat. Ketika harga diri kita pun di jual-belikan untuk kepentingan semata, janganlah takut bahwa pada akhirnya orang akan sanjung harga diri kita sebagai orang merdeka. Sebagai orang yang berdaulat. Sebagai orang mandiri. Ingatlah kebenaran selalu datang tepat pada waktunya!

  • Iri hati amarah dan cemburu. 

Iri hari amarah dan cemburu, membuat orang dapat membunuh bahkan membinasakan orang lain, bahkan keluarga terdekat-pun. Ingatlah Yusuf di jual oleh saudara-saudaranya karena mereka iri Yakub mengasihi dirinya (ayat, 4) tetapi juga Petrus ungkapkan “…Yusuf di jual ke Mesir karena iri hati…” (band Kis, 7:9) . Tetapi juga karena ketika Yusuf mengungkapkan mimpinya, seakan dia adalah raja atas mereka. Padahal Yakub hanya, anak kecil. Alkitab jelaskan saudara-saudaranya benci, iri, dengki hingga merencanakan kejahatan atas Yusuf. Di mana pada akhirnya ia di jual.

Saudaraku! Sikap hidup yang iri kepada orang lain adalah sikap hidup yang tidak terpuji. Paulus mengingatkan kepada jemaat di Galatia bahwa sikap “…iri hati..” (Gal, 5:20) adalah cara hidup orang yang di kuasai oleh keinginan sendiri dan bukan dari atas (roh Tuhan). Iri hati biasanya di sebabkan oleh kelebihan talenta yang di miliki, kekuasaan, harta yang di miliki, atau kehidupan baik yang di miliki orang lain. Orang iri karena hal-hal demikian. Hingga kadang merencanakan kejahatan atas orang lain, kita mendendam hingga kita menyalahkan diri kita sendiri. Selain itu kita juga “marah dan cemburu”. Biasanya cemburu karena perlakuan yang tidak adil. Pada cerita ini di jelaskan ada perhatian khusus yang di tujukan kepada Yusuf oleh Yakub. Yusuf di “anak emaskan”. Perlakuan tidak adil inilah yang kemudian ada reaksi pembunuhan dan penghilangan paksa atas nasib Yusuf, tetapi juga  hingga kepada pembohongan besar atas kasus Yusuf kepada Yakub. Yakub percaya pada bukti palsu tentang kematian anaknya.

Yang terkasih! Iri hati, amarah dan cemburu karena keistimewaan yang kita dapatkan, telah mengorbankan kita. Hak keistimewaan kita telah di rampas, dan di alihkan kepada yang seharusnya tidak harus dimiliki. Kita seakan emas “gasperg” yang di jual ke satu tangan kepada tangan yang lain untuk kepentingan perutnya. Kita jadi alat dan mereka diuntungkan. Kita di korbankan, mereka diuntungkan. Kita menyerit sakit di dalam sengsara, tawanan, jeruji, cambukan dan pukulan hingga kematian. Mereka tertawa dan membenarkan diri. Hak bicara kami di pengadilan pun, di intervensi. Mereka diam dan berbohong di hadapan Tuhan, pencipta alam semesta. Tetapi, ingatlah kebohongan, dusta dan manipulasi akan berlalu dan kebenaran akan berbicara pada saatnya. Kalau nasib kita di korbankan untuk kekuasaan semata, jangan takut dan gentar. Sebab Tuhan di pihak orang benar.

  • Kebohongan dan rekayasa

Kebohongan dan rekayasa memberikan luka mendalam bagi yang mengalami korban. Atas rekayasa kematian Yusuf yang di buat oleh anak-anaknya yang lain telah membuat reaksinya yang tak ter-kontrol. Bahwa Yusuf telah mati. Pada teks ini menjelaskan bahwa, saudara-saudara Yusuf, membuat cerita rekayasa bahwa Yusuf telah di makan oleh binatang puas (ayat 31-33). Apa yang terjadi pada Yakub? pada (ayat 34-35), di jelaskan bahwa: Yakub membuat perjanjian untuk berkabung sampai pada hari kematian. Yakub sangat terpukul dan sedih dengan kematian anaknya yang ia sayangi. Kebohongan dan rekayasa anak-anaknya seakan jarum suntik yang menekan jiwa dan raga.

Saudaraku, bagaimana perasaanmu ketika orang terdekatmu di bunuh, meninggal atau hilang jejak? Ya! tentu kita putus asa. Perasaan seperti itulah yang di alami oleh Yakub. Yakub sedih, dan putus asa karena anak yang ia sayangi tiada lagi. Ketika kita di perhadapkan dengan kondisi di mana orang merekayasa nasib kita, kita percaya dan menyerit sedih. Dan kita butuh waktu untuk pulih, kembali. Dalam dunia kerjamu dokumen, paraf, hingga nasib kita pun di rekayasa untuk memuluskan kepentingan mereka. Kadang faktor rekayasa juga karena ambisi dan tidak mau kita berhasil. Dalam kehidupan sehari-hari kita temukan model-model perlakuan tidak adil, rekayasa, penuh manipulatif dan semua ini memberikan luka bagi yang korban.

Sudaraku! Kita telah melihat dan mengalami banyak bentuk rekayasa dan manipulatif yang di alami oleh kita, mulai dari hal kecil hingga besar. Dalam sejarah Papua jika di lihat dari latar belakang historis, maka kita temukan banyak perlakuan-perlakuan yang tidak adil dan rekayasa penuh. Nasib orang Papua di korbankan. Orang lain merebut Papua dengan tujuan menguasai saham, kekuasaan dan tanah air. Prosesnya sungguh kejam, perebutan paksa (TRIKORA) 1961-1962. Perjanjian New Agreement yang berat sebelah (1963). Hingga, PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) 1969) yang penuh rekayasa politik. Pemilik hak ulayat di paksaan mengikuti keinginan-keinginan buruk. Dalam proses-proses di atas kita temukan banyak proses-proses yang penuh dengan kekerasan dan ketidakadilan. Nyawa manusia tidak lagi di perhitungkan sebagai IMAGO Allah yang sempurna, mereka telah menghabisakan bahkan di kejar-kejar. Begitulah cara orang lain yang tidak mengenal martabat orang lain, dengan cara demikian selalu memberikan luka bagi batin yang mendalam bagi korban. Bagaimana hasilnya?

Saudaraku! Pada bagian ini secara lantang menjelaskan kepada kita tentang “bagaimana kita juga bisa mendapatkan luka batin” oleh orang lain yang tidak mau kita bahagia dan menjadi pemimpin. Di tanah air kita.Yusuf adalah gambaran penting untuk kita. Mari kita bergumul dengan Tuhan, sang pencipta dan pemelihara ulung. Pada part 2 saya akan bicara tentang bagaimana Yusuf di jual. Tuhan memberkati.



Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai